- oleh Nanggulan_KP2025
- 14 Juli 2026 14:15:37
- 40 views
Nanggulan, 14 Juli 2026 – Dalam rangka mendukung pembentukan karakter dan perilaku hidup sehat pada remaja, Puskesmas Nanggulan berpartisipasi dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Nanggulan pada hari Selasa, 14 Juli 2026. Kegiatan edukasi ini diikuti oleh 96 peserta didik baru dengan penuh antusias. Materi disampaikan oleh dr. Fransiscus Buwana, M.Sc. Edukasi ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas perundungan, bijak dalam menggunakan teknologi digital, serta memahami kesehatan reproduksi sebagai bekal memasuki masa remaja.
Mencegah Perundungan Sejak Dini
Pada sesi pertama, siswa diajak memahami pengertian perundungan / bullying, yaitu perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal, fisik, ataupun sosial baik di dunia nyata maupun dunia maya yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, sakit hati dan tertekan baik dilakukan oleh perorangan ataupun kelompok. Perundungan dianggap telah terjadi bila seseorang merasa tidak nyaman dan sakit hati atas perbuatan orang lain padanya. Penyebab pelaku melakukan perundungan antara lain: adanya dorongan kuat untuk menunjukkan kekuatan / kekuasaan agar dianggap pemberani / hebat, pernah menjadi korban perundungan yang membuatnya marah sehingga memiliki dorongan kuat untuk membalas, merasa iri hati atas kepopuleran orang lain serta mengikuti temannya. Bentuk perundungan sendiri dapat berupa verbal (membentak, berteriak, memaki, bergosip, menghina, meledek, mencela, mempermalukan), fisik (menampar, mendorong, mencubit, menjambak, menendang, meninju), sosial (mengucilkan, membeda-bedakan, mendiamkan). Perundungan saat ini tidak hanya terjadi di dunia nyata namun juga dapat di media sosial seperti: mengirimkan pesan teror, menyebarkan berita bohong, membuat akun palsu untuk merusak reputasi seseorang, mengucilkan seseorang dari grup. Ditekankan bahwa bullying dapat menimbulkan dampak serius baik dari aspek akademis, sosial, fisik dan emosi. Dari aspek akademis, korban sering mengalami penurunan konsentrasi belajar, kehilangan motivasi, meningkatnya ketidakhadiran di sekolah, hingga penurunan prestasi karena merasa tidak aman di lingkungan pendidikan. Dari aspek sosial, korban cenderung menarik diri dari pergaulan, mengalami kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya, kehilangan rasa percaya terhadap orang lain, serta berisiko mengalami isolasi sosial. Sementara itu, dari aspek fisik, bullying dapat menyebabkan luka atau cedera akibat kekerasan langsung, gangguan tidur, sakit kepala, nyeri perut, hingga berbagai keluhan psikosomatis yang dipicu oleh stres berkepanjangan. Adapun dari aspek emosional, korban berpotensi mengalami kecemasan, ketakutan, stres, rendah diri, depresi, trauma psikologis, bahkan dapat menyebabkan keinginan bunuh diri. Oleh karena itu, siswa diajak untuk menjadi pelopor anti perundungan dengan membiasakan sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, berani menolak tindakan perundungan, serta melaporkan kejadian kepada guru atau orang tua apabila menemukan tindakan bullying di sekolah.
Bijak Menggunakan Gadget
Materi berikutnya membahas penggunaan gadget yang semakin dekat dengan kehidupan remaja. Gadget memberikan banyak manfaat, seperti mempersingkat jarak dan waktu, mempermudah berinteraksi melalui sosial media, mempermudah mencari informasi yang dibutuhkan, serta menambah keterampilan baru. Namun demikian, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain menurunnya konsentrasi belajar, gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, kecanduan media sosial atau permainan daring, hingga berkurangnya interaksi sosial secara langsung. Siswa diberikan tips menggunakan gadget secara sehat, yaitu: mengatur waktu penggunaan setiap hari, mengutamakan belajar sebelum bermain, tidak menggunakan saat jam pelajaran, menghindari penggunaan sebelum tidur, memanfaatkan untuk kegiatan yang bermanfaat dan produktif serta tetap meluangkan waktu untuk berolahraga, berinteraksi dengan keluarga, dan bermain bersama teman secara langsung. Dengan penggunaan yang bijaksana, gadget dapat menjadi sarana belajar dan pengembangan diri, bukan menjadi sumber ketergantungan.
Memahami Kesehatan Reproduksi Remaja
Pada sesi kesehatan reproduksi, siswa diberikan pemahaman bahwa kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial yang berkaitan dengan fungsi, peran dan sistem reproduksi. Masa remaja merupakan periode yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, emosional, dan psikologis akibat proses pubertas. Materi yang disampaikan meliputi perubahan yang normal terjadi pada remaja laki-laki maupun perempuan, pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, menerapkan pola hidup sehat, menjaga pergaulan yang positif, serta menghormati diri sendiri dan orang lain. Siswa juga diberikan pemahaman tentang penyakit menular seksual (PMS) pada remaja dimana penularan penyakit ini terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, baik vaginal, anal, maupun oral. Beberapa jenis penyakit menular seksual yang sering ditemukan pada remaja antara lain klamidia, gonore, sifilis, herpes genital, infeksi human papillomavirus (HPV) yang dapat menyebabkan kutil kelamin dan meningkatkan risiko kanker serviks, human immunodeficiency virus (HIV) yang menyerang sistem kekebalan tubuh, serta trikomoniasis yang disebabkan oleh parasit. Gejala PMS dapat berupa nyeri saat buang air kecil, keluarnya cairan abnormal dari alat kelamin, luka atau lepuhan pada area genital, gatal, hingga tidak menimbulkan gejala sama sekali sehingga sering tidak disadari. Peserta juga diingatkan untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama yang diperoleh dari internet maupun media sosial.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa mengikuti penyuluhan dengan tertib dan aktif. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai cara menghadapi bullying, mengatur penggunaan gadget, serta perubahan yang dialami selama masa pubertas. Diskusi interaktif ini menunjukkan tingginya minat peserta dalam memahami isu-isu kesehatan remaja. Melalui kegiatan MPLS ini diharapkan peserta didik baru SMP Negeri 2 Nanggulan mampu membangun karakter yang positif, menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai, menggunakan gadget secara bijaksana, serta menerapkan perilaku hidup sehat sejak dini. Puskesmas Nanggulan berkomitmen untuk terus mendukung upaya promotif dan preventif melalui kegiatan edukasi kesehatan di lingkungan sekolah sebagai bagian dari pembinaan kesehatan remaja, sehingga dapat terwujud generasi muda yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berprestasi.
Ditulis Oleh :
dr.Fransiscus Buwana, M.Sc
