- oleh Nanggulan_KP2025
- 18 Maret 2026 09:03:49
- 57 views
“Integrasi Layanan Primer sebagai Strategi Kunci Menuju Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia Tahun 2030”
Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia diperingati setiap 24 Maret setiap tahunnya. Organisasi World Health Organization (WHO) mengusung tema “Yes! We Can End TB: Led by countries, powered by people” merupakan tema yang memiliki arti tegas sekaligus penuh harapan bahwa eliminasi TBC bukan sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai meskipun dunia menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi dan kesehatan. Sejarah hari peringatan Tuberkulosis Sedunia merujuk pada hari dimana Tanggal 24 Maret 1882 Robert Koch, seorang ilmuwan asal Jerman, mengumumkan penemuannya bakteri penyebab Tuberkulosis, yaitu Mycobacterium Tuberculosis. Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam dunia medis karena untuk pertama kalinya penyebab penyakit tersebut dapat diidentifikasi secara ilmiah sehingga membuka jalan bagi pengembangan metode diagnosis, pengobatan, dan pencegahan. Pada Tahun 1982, tepat 100 tahun kemudian, WHO bersama International Union Against Tuberculosis and Lung Disease mendorong kampanye internasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya TBC serta pentingnya pencegahan dan pengobatan1.
Penyakit Tuberculosis masih menjadi beban pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Diperkirakan pada Tahun 2024, 10,7 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit tersebut dengan 5,8 juta laki-laki, 3,7 juta wanita dan 1,2 juta anak-anak. Insiden secara global yakni 131 per 100.000 penduduk. Penyebaran kasus secara epidemiologi paling banyak di Asia Tenggara (34%), Pasifik Barat (27%) dan Afrika (25%). WHO memperkirakan 1,23 orang meninggal pada Tahun 2024. Secara Global total kerugian ekonomi diperkirakan USS 1,98 triliun atau sekitar 1,29 % Produk Domestik Bruto (PDB) global dan menimbulkan Disability Adjusted Life Years/DAYs Lost (merupakan ukuran untuk mengetahui seberapa besar beban suatu penyakit terhadap kehidupan manusia) sebanyak 59.000 per 100.000 orang per tahun2.
Indonesia merupakan negara kedua dengan insidensi TBC terbesar kedua di dunia setelah India. WHO memperkirakan pada tahun 2023 jumlah penderita di Indonesia sekitar 1,09 juta kasus (menyumbang sekitar 10 % dari kasus TBC secara global) dengan insidensi 387 kasus per 100.000 penduduk. Dari estimasi tersebut ditemukan sekitar 885.000 atau 81 % kasus yang dilaporkan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan distribusi 496.000 pada laki-laki, 359.000 pada perempuan, serta 135.000 pada anak usia 0-14 tahun3.
Pada Tahun 2024, 81% penderita TBC Sensitif Obat (SO) sudah mendapatkan inisiasi pengobatan walaupun masih dibawah target 90 %, sedangkan keberhasilan TBC Resisten Obat (RO) baru mencapai 58% jauh dari target 80%. Jumlah kematian akibat penyakit tersebut cukup tinggi sekitar 125.000, setara 44-49 kasus per 100.000 penduduk dalam setahun4. Berdasarkan provinsi, jumlah kasus paling banyak di Provinsi Jawa Barat dengan total 237.710 kasus, disusul Jawa Timur 116.752 kasus, dan Jawa Tengah 107.685 kasus5. Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo Tahun 2025 melaporkan 7349 suspek dengan 427 terkonfirmasi mengalami TBC. Cakupan penemuan suspek dilaporkan mencapai 156,99 %, cakupan penemuan kasus 49,48 % dengan angka keberhasilan pengobatan TB SO 78,92 %6.
Penderita Tuberkulosis tidak hanya merasakan dampak penyakit terhadap kondisi fisiknya, tetapi juga menurunkan kualitas hidup akibat permasalahan psikologis, sosial, lingkungan dan kondisi ekonomi. Penelitian Aini et al. (2025) melaporkan bahwa pasien TBC dengan depresi memiliki kualitas hidup secara signifikan lebih rendah dibandingkan pasien tanpa depresi7. Studi yang dilakukan Atalah dan Arbaningsih (2025) membuktikan bahwa penderita yang mengalami resisten obat memiliki kualitas hidup yang lebih buruk dibandingkan penderita TBC sensitif obat karena durasi terapi yang lebih lama dan efek samping yang lebih berat8. Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health 2025 melaporkan bahwa stigma berhubungan negatif dengan kualitas hidup pada pasien resisten pengobatan9.
Integrasi Layanan Primer (ILP) merupakan implementasi kebijakan kementerian kesehatan dalam melakukan transformasi kesehatan primer. Implementasi tersebut merupakan fondasi penting untuk mendukung program pemerintah dalam mencapai eliminasi TBC pada Tahun 2030. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomer 67 Tahun 2021 target penurunan insiden menjadi 65 kasus per 100.000 penduduk, cakupan penemuan dan pengobatan mencapai 95 %, persentase keberhasilan pengobatan TB SO 90 %, cakupan penemuan dan pengobatan TB RO 80%, serta penurunan angka kematian menjadi 6 per 100.000 penduduk pada tahun 203010. Berikut strategi layanan primer dalam mendukung eliminasi TBC antara lain:
- Penguatan Penemuan Kasus Aktif
Penguatan penemuan kasus TBC secara aktif (Active Case Finding/ACF) merupakan strategi penting dalam pengendalian TBC. Pendekatan ini berbeda dengan penemuan kasus pasif yang hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Melalui kegiatan ACF maka dapat memutus rantai penularan lebih cepat, meningkatkan angka deteksi kasus, menurunkan morbiditas dan mortalitas, menjangkau kelompok rentan, mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran masyarakat karena kegiatan tersebut biasanya disertai dengan edukasi, serta mencegah resistensi obat karena diagnosis dan terapi yang cepat & tepat dapat mencegah keterlambatan pengobatan11.
- Optimalisasi Diagnosis Tuberkulosis
Optimalisasi diagnosis Tuberkulosis berbasis pemeriksaan Tes Cepat Molekular (TCM) dan Rontgen Paru menjadi strategi penting dalam penemuan kasus dan ketepatan terapi pengobatan. Pemeriksaan TCM dikenal sebagai GeneXpert MTB/RIF merupakan pemeriksaan tes diagnostik terbaru yang direkomendasikan WHO dengan sensitivitas 85-90% (artinya dari 100 pasien benar-benar TBC, sekitar 85-90 orang terdeteksi positif) dan spesifikasinya 98-99% (artinya dari 100 orang bukan TBC, sekitar 98-99 orang terdeteksi negatif). Pemeriksaan tersebut dapat mengidentifikasi resistensi terhadap pengobatan rifampisin. Sementara itu, pemeriksaan rontgen paru memberikan gambaran radiologis yang membantu menilai luas lesi paru, pola infiltrat, kavitas, maupun komplikasi lain yang tidak selalu terdeteksi secara klinis. Kombinasi kedua metode ini menciptakan pendekatan diagnostik yang komprehensif: TCM memastikan konfirmasi bakteriologis dan resistensi obat, sedangkan rontgen memperkuat evaluasi klinis serta membantu dalam kasus dengan hasil TCM negatif tetapi kecurigaan klinis tinggi11.
- Pengobatan TBC Sesuai Standard dan Pengawasan Minum Obat (PMO)
Pada Tahun 2025 Kementerian Kesehatan memiliki panduan pengobatan TB SO terbaru dengan waktu pengobatan dari 6 bulan menjadi 4 bulan sehingga bermanfaat meningkatkan kepatuhan berobat karena durasi pengobatan lebih pendek, menurunkan beban pengobatan dan kunjungan pasien, serta menurunkan dampak sosial-ekonomi bagi pasien. Paduan OAT SO dengan 2HPMZ / 2HPM terdiri dari isoniazid, rifapentine, moksifloksasin, dan pirazinamid yang diberikan selama 2 bulan dilanjutkan dengan isoniazid, rifapentine, moksifloksasin selama 2 bulan. Selain itu, Pengawasan Minum Obat (PMO) merupakan strategi penting dalam pengobatan Tuberkulosis. Melalui pengawasan yang konsisten dan dukungan dari keluarga serta tenaga kesehatan, pasien memiliki peluang lebih besar untuk sembuh total dan terhindar dari resistensi obat11.
- Pencegahan Melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)
Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) adalah suatu keadaaan dimana sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi tidak mampu mengeliminasi bakteri Mycobacterium Tuberculosis dari tubuh secara sempurna tetapi mampu mengendalikan bakteri sehingga tidak timbul gejala sakit. Beberapa studi melaporkan, 5-10% ILTB berpotensi menjadi TBC aktif setelah 5 tahun terinfeksi. Populasi yang perlu diberikan obat TPT antara lain: orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) /AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), kontak serumah dengan penderita TBC terkonfirmasi bakteriologis, pasien imunokompremise (penderita kanker, cuci darah, penggunaan obat kortikosteroid jangka lama), warga binaan, petugas medis, sekolah berasrama dan pengguna narkoba suntik12.
- Integrasi Pelayanan Tuberkulosis dengan Penyakit Kronis
Diabetes Mellitus (DM) dan HIV/AIDS terbukti memiliki kontribusi kuat terhadap kejadian Tuberkulosis. Penelitian metaanalisis yang dilakukan oleh Jeon dan Murray et al. (2008) menunjukkan bahwa penderita DM memiliki sekitar 3 kali risiko lebih besar untuk mengalami TB aktif dibandingkan orang tanpa DM (Risiko Relatif ≈ 3,11; 95% CI 2,27–4,26). Hiperglikemia pada diabetes mengganggu fungsi sel imun seperti makrofag dan fagositosis, sehingga membuat tubuh kurang efektif dalam melawan Mycobacterium Tuberculosis. WHO merekomendasikan agar pasien DM diskrining gejala dan pemeriksaan TB, serta pasien TB diperiksa kadar gula darah untuk mendeteksi DM13. Terdapat pula program kolaborasi TB–HIV untuk menangani ko-infeksi secara terpadu melalui skrining HIV pada semua pasien TB dan skrining TB secara rutin pada orang dengan HIV, pemberian terapi antiretroviral (ARV) sedini mungkin pada pasien, terapi TPT pada ODHA tanpa TB aktif, serta penguatan sistem rujukan serta pencatatan terpadu14.
- Pemberdayaan Masyarakat dan Edukasi Kesehatan
WHO mendorong pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas sebagai salah satu komponen penting dalam program eliminasi TBC. Penelitian di negara dengan beban TB tinggi menunjukkan bahwa pelibatan kader kesehatan, relawan komunitas, dan penyintas dalam active case finding (ACF) mampu meningkatkan penemuan kasus secara signifikan dibandingkan pendekatan pasif berbasis fasilitas kesehatan. Model community-based DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) meningkatkan angka keberhasilan pengobatan serta menurunkan angka putus berobat melalui pendampingan minum obat oleh keluarga dan kunjungan rumah rutin bersama kader15. Di Indonesia, penelitian implementasi program berbasis masyarakat menunjukkan bahwa pelatihan kader dan tokoh masyarakat dalam edukasi TB meningkatkan literasi kesehatan, mempercepat rujukan suspek, serta memperkuat dukungan keluarga terhadap pasien. Studi intervensi berbasis komunitas juga menemukan adanya penurunan stigma sosial setelah dilakukan penyuluhan partisipatif dan pembentukan kelompok dukungan sebaya16.
- Penguatan Pencatatan dan Pelaporan Berbasis Digital
Penguatan pencatatan dan pelaporan kasus Tuberkulosis di layanan primer menjadi komponen essensial dalam sistem surveilans dan pengendalian penyakit sebagaimana telah diatur dalam Pedoman Nasional Penanggulan Tuberkulosis. Pemerintah mengembangkan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) untuk memperkuat koordinasi antara puskesmas, rumah sakit, laboratorium, dan dinas kesehatan dalam memastikan pasien mendapatkan pengobatan tuntas serta mencegah terjadinya kehilangan tindak lanjut (loss to follow-up). Sistem tersebut menjamin kesinambungan pelayanan, memantau kinerja program, menyediakan data akurat dan tepat waktu untuk mendukung kebijakan eliminasi TBC 2030 sesuai dengan Perpres 67 Tahun 2021.
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia, mari kita bersama-sama melakukan penguatan penemuan kasus secara aktif, mengoptimalisasi diagnosis, melakukan pengobatan sesuai standard dan pengawasan minum obat, memberikan terapi pencegahan, mengintegrasikan pelayanan dengan penyakit kronis, memberdayakan keluarga dan masyarakat, serta memperkuat pencatatan dan pelaporan kasus demi mewujudkan Indonesia bebas TBC Tahun 2030.

Oleh : dr.Fransiscus Buwana, M.Sc
Puskesmas Nanggulan
Daftar Pustaka
- World Health Organization (WHO). 2026. World TB Day 2026: Yes! We can end TB! Available at: https://www.who.int/campaigns/world-tb-day/2026 (Accessed: 5 March 2026)
- World Health Organization (WHO). 2025. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: World Health Organization.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2025. Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis. Diakses 05 Maret 2026. https://kemkes.go.id/id/indonesias-movement-to-end-tb
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2025. Aksi Nyata Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Indonesia. Diakses 05 Maret 2026. https://kemkes.go.id/eng/47510
- Aliya, Nisa. 2025. Analisis Epidemiologi Kasus TBC Kabupaten / Kota Jawa Barat dengan Faktor Risiko Jenis Kelamin. Diakses 05 Maret 2026. https://rpubs.com/ghaitshaf/1366804
- Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo. 2025. Lokakarya Mini Pengendalian Tuberkulosis di Kabupaten Kulon Progo. PowerPoint. Kulon Progo: Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo.
- Aini, D., Wirawati, M., Noor, M., Ramadhani, D. 2025. Perbedaan Kualitas Hidup Pada Pasien Tuberkulosis Dengan Gangguan Depresi dan Tanpa Gangguan Depresi. Jurnal Ners; Vol 9 (1).
- Attalah, A., Arbaningsih, S. 2025. Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru Sensitif Obat dengan Tuberkulosis Resisten Obat di RSU Haji Medan. Jurnal Kesehatan Republik Indonesia; Vol. 2 (6).
- Arifin, S; Sarwadan, M. 2025. Stigma and health-related quality of life (HRQoL) among people with multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB): A cross-sectional study in Indonesia. Narra J 2025; 5(2): e1317.
- Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2025. Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2025. Petunjuk Teknis Penanganan Infeksi Laten Tuberkulosis. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
- Jeon, C.Y. and Murray, M.B. 2008. Diabetes mellitus increases the risk of active tuberculosis: a systematic review of 13 observational studies. PLoS Medicine, 5(7)
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Petunjuk Teknis Kolaborasi TBC HIV. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
- Chavez-Rimache, L., Ugarte-Gil, C. & Brunette, M.J. 2023. The community as an active part in the implementation of interventions for the prevention and care of tuberculosis: a scoping review. PLOS Global Public Health, 3(12)
- Kumah, A. 2025. Building community networks and engagement for effective TB case management. Frontiers in Public Health (13) :1576875
